NasionalTana Toraja

Memprihatinkan, Nenek Tua Renta di Mappak Toraja Hidup Seorang Diri di Gubuk Reot yang Hampir Ambruk

×

Memprihatinkan, Nenek Tua Renta di Mappak Toraja Hidup Seorang Diri di Gubuk Reot yang Hampir Ambruk

Sebarkan artikel ini

Nenek Samalu’, warga Mappak, Tana Toraja, yang hidup di bawah ambas batas kemiskinan, tinggal seorang diri di gubuk reot nyaris ambruk.

Ramapos.com – Seorang nenek tua renta bernama Samalu’ (60) di Dusun Ira’, Lembang Dewata, Kecamatan Mappak, Kabupaten Tana Toraja (Tator), Sulawesi Selatan (Sulsel), hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan

Ia salah satu dari sekian warga Tana Toraja yang hidup di bawah ambang batas kemiskinan yang luput dari perhatian pemerintah.

Menurut Seprianus Sambira, putra sulung Nenek Samalu’, ibunya tinggal seorang diri di gubuk reot yang nyaris rubuh itu sejak ayahnya (suami Nenek Samalu’) meninggal dunia. Sebab, dia dan saudaranya meninggalkan desa demi mengejar cita-cita.

Diketahui, rumah dari dinding anyaman bambu, bertiang bambu dan beratapkan rumbia itu sudah bocor dan nyaris ambruk karena termakan usia.

“Kami dua orang bersaudara tapi saudaraku dibawa saudaranya Bapak sejak kecil. Ibu saya seorang janda, tinggal sendiri di rumah yang dalam hitungan bulan mungkin akan rubuh. Tapi meskipun begitu, tidak ada perhatian dari pemerintah,” kata Sepri kepada Ramapos, Sabtu 27 Januari 2024, siang.

Pasalnya, rumah tersebut dibangun rumpun keluarga pada 2018 silam untuk membantu Nenek Samalu saat kehilangan tempat tinggal. Mereka terpaksa menjual rumah satu-satunya karena perosalan terlilit hutang.

“Lima tahun lalu kami punya rumah Layak huni tapi karena hutang keluarga atau indan, akhirnya dijual. Tahun 2018, keluarga dirikan gubuk ini untuk mama saya karena sebatang kara kasian,” ujarnya.

“Dia tidak terlalu waras karena pernah tabrakan sampai otaknya bermasalah. Saya sampai saat ini masih berjuang mengejar pendidikan selama masih ada beasiswa yang saya dapat untuk membantu ibu saya,” ungkapnya.

Lanjut kata dia, pendapatan ibunya bisa dikata tidak ada sebab tergantung panggilan tetangga untuk kerja serabutan. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia menggantungkan nasib kepada tetangga dan dermawan.

Terkadang, ada pula warga yang menggunakan jasa Nenek Samalu’ untuk membantu pekerjaan di ladang pada musim tanam ataupun musim panen tiba. Pekerjaan apapun dia lakukan selama bisa menghasilkan uang.

“Untuk makannya dapat dari keluarga terdekat. Pekerjaan hanya ikut-ikut orang kalau musim panen. Saya mau sekali putus sekolah biar bisa bantu mama tapi keluarga bilang usahakan dapat ijasah sarjana,” ujarnya.

Sementara Sepri yang sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Tana Toraja, dia tinggal di Gereja Katolik Makale karena tidak punya uang untuk sewa kontrakan.

“Ada bedah rumah tapi yang kaya dan punya rumah layak huni malah yang dapat. Rumah ini yang hanya mirip pondok sawah bahkan masih lebih bagus pondok sawah tapi disepelekan pemerintah,” ujarnya.

Dia menyayangkan program bedah rumah di Kecamatan Mappak khususnya Lembang Dewata yang pasalnya tidak menyentuh masyarakat miskin. Justru, diberikan kepada warga mampu alias ekonomi menengah ke atas.

Dia berharap, pemerintah betul-betul menjalankan fungsi dan perannya mengumpulkan data di lapangan sehingga bantuan benar-benar tepat sasaran kepada warga yang layak dibantu.