NasionalSosokTana Toraja

Prihatin Kondisi Nenek Samalu’ Tinggal di Gubuk Reot, Perempuan Toraja Berdo’a Tawarkan Bantuan

×

Prihatin Kondisi Nenek Samalu’ Tinggal di Gubuk Reot, Perempuan Toraja Berdo’a Tawarkan Bantuan

Sebarkan artikel ini

Ketua Perempuan Toraja Berdo’a, Dr. Esther Ryan Mandalawaty bersama anak Nenek Samalu’, Seprianus Sambira

Ramapos.com – Kondisi memprihatinkan Nenek Samalu’ (60), warga Ira, Lembang Dewata, Mappak, Tana Toraja, Sulsel, yang tinggal seorang diri di gubuk reot, mengundang reaksi Perempuan Toraja Berdo’a.

Ketua Komunitas Perempuan Toraja Berdo’a, DR Esther Ryan Mandalawaty mengatakan baru mengetahui kondisi Nenek Samalu’ dari pemberitaan media. Mereka pun terpanggil untuk membantu meringankan beban perempuan berusia lanjut itu.

“Saya ketika melihat berita itu di grup WA Pilkada Toraja, saya terpanggil untuk membantu dan saya menemui anak dari Nenek Samalu untuk mendengar langsung keadaannya. Sangat kasihan ya melihat kondisi lansia seperti itu tinggal sendiri di gubuk di pelosok,” kata Esther kepada Ramapos, Senin 29 Januari 2024, siang.

“Dengan jaringan yang ada saya sebagai perwakilan ibu siap untuk membantu ibu Samalu. Tidak ada kata tidak untuk mengulurkan tangan bagi sesama yang membutuhkan,” jelasnya.

Esther mengaku heran masih ada warga di bawah ambang batas kemiskinan yang luput dari perhatian pemerintah.

Dia juga menyayangkan pihak berwenang tidak menaruh perhatian kepada Nenek Samalu meski kondisinya yang tinggal seorang diri di rumah tidak layak huni bahkan nyaris ambruk, telah viral di berbagai media sosial.

“Orang-orang seperti nak Sepri ini (Putra sulung Nenek Samalu’) inilah yang seharusnya diperhatikan dan kita bantu karena berjuang untuk mengangkat derajat keluarga,” kata Esther yang juga pendiri Persekutuan Kaboro’na Puang.

“Tapi sangat disesalkan di tengah orang-orang bersuka cita masih ada warga Toraja yang hidup memilukan. Lebih disayangkan lagi, sudah viral tapi hanya jadi tontonan pihak-pihak berwenang,” ujar Esther.

Pemerhati perempuan itu pun menawarkan bantuan kepada putra sulung Nenek Samalu’, yakni Seprianus Sambira agar ibunya dibawa ke Kota Makale sehingga mudah dipantau.

Sebab, nenek Samalu mengalami gangguan mental akibat trauma masa lalu. Apalagi, ditambah kondisi saat ini yang tinggal seorang diri dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan.

“Bukan berarti kita akan membangunkan istana tapi setidaknya bisa memiliki tempat tinggal yang layak,” ujarnya.

“Dan lebih baiknya lagi kalau ibu dibawa ke Makale karena saya punya beberapa tim dan relasi dokter saraf yang bisa merawat ibu secara intensif,” kata Esther.

Besok, Selasa 30 Januari, Perempuan Toraja Berdo’a menyalurkan bantuan kebutuhan hidup Nenek Samalu’ sembari menyiapkan bantuan jangka panjang, yakni bantuan bedah rumah dan kebutuhan lainnya.