BeritaNasionalSuara RakyatTana Toraja

Takut Dampak SPPBE Dibangun di Pemukiman, Warga Karangan Toraja Minta Kejelasan Perusahaan

×

Takut Dampak SPPBE Dibangun di Pemukiman, Warga Karangan Toraja Minta Kejelasan Perusahaan

Sebarkan artikel ini

Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) di Karangan, Gandangbatu Sillanan, Tana Toraja, dibangun di pemukiman padat penduduk.

Ramapos.com – Warga Lembang/Desa Buntu Limbong, Gandangbatu Sillanan (Gandasil), Tana Toraja (Tator), Sulawesi Selatan (Sulsel) khawatir dengan dampak Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) di Karangan yang dibangun di tengah pemukiman.

Warga setempat, Eliaser alias Pak Arlan mengaku khawatir lantaran tidak adanya sosialisasi dari pihak perusahaan maupun pemerintah mengenai keamanan dampak lingkungan (Amdal).

“Sudah pasti kita khawatir Pak karena dibangun di tengah pemukiman. Tapi kita masyarakat bisa apa, yang diundang membahas SPPBE kemarin hanya orang di atas (pemerintah dan tokoh masyarakat),” kata Eliaser kepada Ramapos, Rabu 28 Februari 2024.

“Ada satu dua masyarakat yang ikut mendengar (rapat) itu hari tapi begitumi ikut-ikut saja karena belum paham dampak buruknya kalau didirikan di pemukiman,” jelasnya.

Karena itu, warga sepakat untuk mengadakan pertemuan dengan pimpinan utama perusahaan. Warga ingin mendengar langsung soal dampak dan tanggung jawab pihak perusahaan.

“Tidak pernah muncul bosnya. Jadi kalau kita ke atas (lokasi SPPBE) mau mengeluh, jawaban yang kita dapat itu-itu saja. Mereka bilang nanti disampaikan sama pimpinan tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut. Makanya kami masyarakat mau ketemu langsung dengan bosnya lewat musyawarah,” ujarnya.

Dia menceritakan, salah satu dampak yang dirasakan masyarakat karena pembangunan SPPBE Minanga Jaya ialah rumah warga tergenang banjir.

Tidak adanya pengawasan di lapangan membuat pekerja tidak memperhatikan drainase yang berbuntut rumah warga sudah 3 kali tergenang air setinggi betis orang dewasa saat hujan.

Selain itu, jalan tani dan makam yang ada di tebing sekitar proyek rawan longsor akibat tanah di bagian bawah telah digerus saat diratakan (cutting).

“Pihak perusahaan harus bertanggung jawab karena kalau tidak dipancang, kuburan dan jalan tani di belakang itu bisa longsor. Sudah goyang tanahnya itu,” ungkap Eliaser.

Sementara humas pihak perusahaan yang ditemui di lokasi yang diketahui bernama Pak Fadel, enggan membeberkan informasi.

“Saya tidak tahu dek, jangan tanya saya. Nanti ketemu langsung dengan pimpinan. Nama saya di privasi ya,” ujarnya.

Pantauan di lokasi, tidak terpasang papan proyek sehingga Ramapos tidak mengetahui secara detail pihak pelaksana