BeritaMakaleNasionalTana Toraja

Tanpa Pengawasan Konsultan, Proyek Jalan Surruk-Pangrata Tana Toraja Makan Korban 

×

Tanpa Pengawasan Konsultan, Proyek Jalan Surruk-Pangrata Tana Toraja Makan Korban 

Sebarkan artikel ini
Rumah warga diterjang longsor akibat proyek Jalan Surruk-Pangrata
Rumah warga diterjang longsor akibat proyek Jalan Surruk-Pangrata

Dua rumah warga di Randanbatu, Makale Selatan, Tana Toraja diterjang longsor akibat proyek jalan yang dikerjakan asal-asalan tanpa pengawasan konsultan.

Ramapos.com – Dua rumah warga di Lembang Randanbatu, Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja (Tator), Sulawesi Selatan (Sulsel), ambruk diterjang longsor pada Senin 26 Februari 2024 lalu.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut namun rumah Yelsanni Margaretha alias Indok Agus (39) dan Piung alias indok Nawir (50) ambruk serta tertimbun material longsor.

Warga menduga, itu lantaran infrastruktur jalan penghubung Surruk-Pangrata yang dikerjakan asal-asalan tanpa pengawasan pihak konsuktan serta tidak memperhatikan sisi keamanan serta keselamatan warga.

“Ya memang. Karena proyek ini pak. Seandainya tidak dikerja asal-asalan tidak akan longsor begini. Bagaimana kalau tebing dibuat tegak sekali, tidak perhatikan kemiringan tebing jadinya pasti cepat longsor,” kata warga setempat, kepada Ramapos, Kamis 29 februari 2024.

Wakil Ketua DPRD Tana Toraja monitoring proyek jalan Surruk-Pangrata
Wakil Ketua DPRD Tana Toraja, Yohanis Lintin paembongan monitoring proyek jalan Surruk-Pangrata

Selain tidak memperhatikan sudut kemiringan tebing saat proses cutting, terdapat tumpukan akar bambu di puncak tebing tepat di tepi jalan yang bisa jatuh sewaktu-waktu.

Warga mengaku sudah menyampaikan perihal itu kepada pihak pelaksana proyek namun tidak digubris.

“Kita mau bicara sama pekerja tidak didengar juga jadi kita diam saja. Sedangkan konsultan tidak pernah datang tidak pernah kelihatan, padahal kuncinya yang terutama disini adalah konsultan,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Tana Toraja monitoring proyek jalan Surruk-Pangrata
Wakil Ketua DPRD Tana Toraja monitoring proyek jalan Surruk-Pangrata

Senada itu, Wakil Ketua DPRD Tana Toraja, Yohanis Lintin Paembongan saat memberikan bantuan kepada korban sekaligus monitoring proyek mengatakan longsor diakibatkan faktor kelalaian kontraktor pelaksana.

“Ini bukan musibah yang tidak diduga karena dari awal dilihat dan sudah ditegur masyarakat bahwa itu berbahaya bisa longsor tapi kamu bilang tidak perhatikan padahal sudsh ditanya warga,” ujar Yohanis yang juga Ketua PDI Perjuangan Tana Toraja.

Sementara, pengawas lapangan pelaksana proyek atau pihak rekanan, Supirman mengakui pekerjaan tanpa pengawasan konsultan pelaksana sebab kontraknya usai pada 2 Januari.

“Jadi praktis sejak bulan Januari kami bekerja tanpa konsultan pengawas karena kontraknya sudah selesai, ujarnya.

Diketahui, proyek ini mencakup rekonstruksi, peningkatan dan pemeliharaan dengan nilai kontrak Rp 15.383127.059 (15 Miliar lebih). Anggaran proyek bersumber dari APBN.

Sesuai kontrak, proyek yang dikerjakan PT Bumi Karsa dengan Konsultan Supervisi dari PT Antariksa Golobalindo ini seharusnya rampung awal Januari 2024. Hingga saat ini belum 100 persen.