Hukum dan KriminalNasionalTana Toraja

Tantang Kapolri, Judi Sabung Ayam Digelar di Sangalla Toraja Meski Bulan Suci Ramadhan

×

Tantang Kapolri, Judi Sabung Ayam Digelar di Sangalla Toraja Meski Bulan Suci Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Judi sabung ayam (Ist)

Ramapos.com – Warga Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel) terkesan tidak mengindahkan bahkan menantang Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo soal pemberantasan judi sabung ayam di tanah air.

Diketahui, Kapolri memerintahkan jajaran Mabes Polri hingga Polda untuk memberantas aktivitas judi, baik perjudian konvensional maupun online, termasuk pihak yang membekingi.

“Tidak hanya para pemain dan bandar saja, namun juga pihak yang mem-backing di belakangnya serta melakukan pemblokiran situs-situs judi online,” menurut unggahan Instagram resmi Divisi Humas Polri.

Informasi diterima Ramapos dari salah satu warga, Kamis 14 Maret 2024, penyelenggara tak mengindahkan atensi Kapolri dan tetap menggelar judi sabung ayam di Leatung, Kecamatan Sangalla Utara meski ibadah puasa bulan suci Ramadhan tengah berlangsung.

“Iya lanjut, tidak tahu sampai berapa hari,” kata warga yang enggan disebut identitasnya kepada Ramapos, Kamis siang.

Sementara Kasat Reskrim Polres Tana Toraja, AKP Sayid Ahmad saat dikonfirmasi mengatakan akan melakukan penyelidikan.

“Nanti kita cek kebenarannya, Polisi itu kan menindaklanjuti laporan yang masuk,” ujarnya.

Hingga pukul 13.43 Wita, belum ada informasi lanjut soal penindakan perbuatan melanggar hukum tersebut.

Diberitakan sebelumnya, aktivis Lembaga Pilar Rakyat Indonesia (LPRI) menyesalkan judi sabung ayam marak di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel) saat ibadah puasa tengah berlangsung.

Ketua LPRI Rasyid Mappadang menuturkan, perbuatan melanggar hukum itu sangat mencederai bulan suci Ramadhan, tidak menghargai ibadah keyakinan umat minoritas, dan tidak mencerminkan toleransi umat beragama di Bumi Lakipadada julukan Tana Toraja.

Meski begitu kata Rasyid, judi sabung ayam seakan tak tersentuh hukum. Seperti baru-baru ini digelar di wilayah Sangalla’ dan Bonggakaradeng selama beberapa hari namun seolah luput dari perhatian aparat penegak hukum (APH) dan pemerintah setempat.

“Ini tidak bisa dibiarkan, saudara kita yang beragam muslim kan sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Jangan mentang-mentang minoritas terus tidak kita hargai, jangan,” kata Rasyid kepada Ramapos di Makale, Rabu 13 Maret 2024.

“Aparat penegak hukum dan pemerintah setempat seharusnya bisa menjadi contoh bagi masyarakat, melarang segala perbuatan yang bisa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa. Ini kan moment sakral saudara kita umat Islam,” jelasnya.

Rasyid meminta Kepolisian serta pihak berwenang lainnya tidak menutup mata atas persoalan ini. Pria yang akrab disapa anak bangsa itu berharap, aparat yang betugas di desa betul-betul menjalankan tujuan pokok dan fungsi (Tupoksi) selaku abdi negara.