BeritaNasionalTana Toraja

Telan Anggaran Rp 15 Miliar, Proyek Jalan Surruk-Pangrata Toraja Diduga Dikerja Asal-asalan

×

Telan Anggaran Rp 15 Miliar, Proyek Jalan Surruk-Pangrata Toraja Diduga Dikerja Asal-asalan

Sebarkan artikel ini
Proyek poros Surruk-Pangrata dikerja asal-asalan
Proyek poros Surruk-Pangrata dikerja asal-asalan

Wakil Ketua DPRD Tana Toraja, Yohanis Lintin Paembongan meninjau proyek ruas jalan Surruk-Pangrata.

Ramapos.com – Wakil Ketua DPRD Tana Toraja (Tator), Yohanis Lintin Paembongan monitoring pekerjaan jalan ruas Surruk-Sangratu (Makale-Makale Selatan), Selasa 27 Februari 2024. Proyek menelan anggaran Rp 15 miliar itu diduga dikerja asal-asalan.

“Kami menerima laporan masyarakat terkait pekerjaan jalan ini yang diduga dikerja asal-asalan, jadi kita melakukan investigasi,” kata Yohanis kepada Ramapos di lokasi proyek, Lembang Randanbatu, Makale Selatan, Selasa sore.

“Seperti kita lihat sendiri, pekerjaan jalan poros Surruk-Pangrata dikerjakan tanpa pengawasan konsultan. Akibatnya seperti ini, terkesan asal dikerja,” jelasnya.

Bagian tengah jalan tidak menggunakan LPA
Bagian tengah jalan tidak menggunakan LPA

Diketahui, proyek ini mencakup rekonstruksi, peningkatan dan pemeliharaan dengan nilai kontrak Rp 15.383127.059 (15 Miliar lebih). Anggaran proyek bersumber dari APBN.

Sesuai kontrak, proyek yang dikerjakan PT Bumi Karsa dengan Konsultan Supervisi dari PT Antariksa Golobalindo ini seharusnya rampung awal Januari 2024. Hingga saat ini belum terealisasi 100 persen.

“Coba perhatikan aspalnya, ini baru satu minggu yang lalu tapi sudah rusak seperti ini. Asas manfaat apa yang bisa dirasakan masyarakat. Padahal anggarannya ini sangat besar,” kata Yohanis yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Tana Toraja.

Dugaan proyek dikerjakan asal-asalan diperkuat kesaksian warga setempat, Paulus Miri.

Paulus yang merupakan Ketua RT Palino menuturkan, proyek dikerjakan tanpa konsultan pengawas.

“Selama pengaspalan tidak pernah konsultannya datang. Cuma waktu baru-baru awal masuk kerja ada konsultannya dilihat, tapi sekarang tidak pernah lagi masuk,” ujarnya.

Selain itu, pengaspalan di beberapa titik kata dia diduga melanggar standar operasional prosedur (SOP) sebab tidak menggunakan lapis pondasi atas (LPA).

“Kami saksikan sendiri jalan yang diaspal dasarnya tanah, ada juga tergenang air langsung diaspal. Disana (daerah Pasang) hanya pinggirnya yang di cor makanya belum satu minggu di aspal, badan jalan sudah rusak, terkelupas,” ujarnya seraya menunjuk aspal baru yang sudah lepas.

“Ada juga yang sore di cor, malamnya langsung diaspal. Kami masyarakat pun paham kalau seperti itu aspal tidak akan menyatu dengan dasar betonnya,” jelasnya.

Sementara pengawas lapangan pelaksana proyek atau pihak rekanan, Supirman mengakui pengaspalan tanpa pengawasan konsultan pelaksana karena kontraknya usai pada 2 Januari.

“Jadi praktis sejak bulan Januari kami bekerja tanpa konsultan pengawas,” ujarnya.

Namun dia membantah proyek dikerja asal-asalan. Dia berdalih pekerjaan sudah sesuai RAB.

“Tidak benar begitu, kami sudah mengerjakan sesuai gambar (RAB),” katanya.